Learning,
earning,
giving
Teman lama saya yang sudah hampir 15 tahun bekerja dan sudah mencapai posisi wakil direktur, tiba-tiba mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat ia bekerja.
Banyak teman-teman merasa heran, beliau yang sudah berposisi dan tingkat penghasilan sedemikian tinggi mau mengundurkan diri.
Beberapa lama setelah mendengar kabar tersebut, saya bertemu dengannya dan bertanya mengapa se demikian berani mengundurkan diri setelah mencapai pososi yang cukup menggiurkan itu.
Kepada saya, ia telah mencapai tujuan hidup yang ia impikan. Sekain itu, perusahaan tidak memberikan tantangan pekerjaan lagi.
Rupanya ia telah membagi perjalanan hidupnya selama 50 tahun menjadi 3 fase :
1. Pendidikan
Fase pertama ini sampai umur 25 tahun, pada fase ini adalah saat ia beljar dari bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pada usia telah meraih gelar doktordi bidang geologi.
Pada fase pendidikan ini ia tidak hanya belajar ilmu hard skills tapi juga soft skills. Di masa – masa ini ia belajar pengetahuan dan ketrampilan dalam berorganisasi, memahami pendapat orang lain yang diperlukannnya kelak baik dunia kerja maupun dunia social.
Dimasa ini banyak mengeluarkan dana untuk mendapat pendidikan yang terbaik yang dapat diperolehnya.
2. Fase Kerja
Setelah meliwati fase pendidikan, fase berikutnya adalah fase produksi atau disebut juga fase bekerja. Fase ini mulai dari umur 25 tahun sampai umur 50 tahun. Fase ini merupakan fase yang menghasilkan dana dimana fase ini merupakan fase kerja seorang usia produktif. Dalam masa ini, ia mulai bekerja, berpacaran, menikah, memiliki anak dan mengum pulkan asset. Ia berhasil mendapatkan bebrapa pekerjaan perusahaan asing yang tentunya dengan tingkat pendapatan di atas teman- temannya yang bekerja di perusahaan nasional.
Dari hasil yang didapat kemudian dikumpulkan dalam tabungan, setelah dirasa cukup maka dibelikan asset-asset produktif seperti instrument keuangan dan property.
Ia membeli flat kecil di kotanya dikotanya kemudian disewakan. Membeli tanah strategis dekat kampus kemudian dibangun beberapa kamar kemudian disewakan kepada para mahasiswa. Semua asset yang ia miliki semuanya produktif. Karena kejelian melihat peluang pasar dan dan menggunakan strategi yang jitu maka ia telah mencapai financial freedom antara usia 25 sampai 50 tahun.
3. Fase Panen/ Menuai
Setelah usia 50 tahun, ia sudah tinggal memanen dari asset- asset yang ia miliki, apalagi anaknya sudah mencapai 20 – 25 tahun sehingga tanggungan biaya sudah tidak banyak lagi. Pendidikan anak sudah disiapkan tiap bulan selama fase sebelumnya. Ia tinggal menikmati hari tuanya dari hasil sewa propertynya dan hasil asuransi link yang ia ikuti selama ini.
Ia pun bisa jalan-jalan keluar negeri, tujuan hidupnya telah tercapai, karena itu ia memutuskan untuk resign dari perusahaan. Ia banyak berkecimpung didunia social dan membantu masyarakat sekitarnya.
Mudah-mudahan ada yang bisa kita tiru dari cerita di atas ia telah merencanakan kehidupannya sejak dari awal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar